Berikut catatan kaki yang dapat disimpulkan dari Obrolan
Minggu Bahas Kesehatan Anak (OMBAK) yang
digagas oleh Komunitas Cibubur Ceria di Function Room Sekolah Alam Cikeas pada
hari Minggu, 3 April 2016. Semoga bermanfaat.
Pembicara :
dr. Arifianto, Sp. A
Moderator :
Nina Tamam
A. Demam pada Anak
Ø
Sebenarnya demam merupakan sinyal indikator yang
disampaikan oleh tubuh tentang adanya penyakit dalam tubuh. Demam tidak
berbahaya, justru sesuatu yang baik karena tubuh menjalankan fungsinya memberi peringatan
kepada pemiliknya.
Ø
Makin tinggi suhu demam tidak berarti
menggambarkan parahnya penyakit. Saat anak demam tinggi, itulah saat dimana
tubuh mempertahankan imunitasnya sehingga akan menjadi kuat terhadap penyakit. Jadi
sebaiknya tidak langsung diberikan obat. Kenalilah demam anak, apakah ada
penyertanya?
Ø
Saat anak demam obat yang diberikan cukup Paracetamol
bukan Ibuprofen atau Acetulsalicylic Acid. Paracetamol diberikan jika anak
demam dan rewel. Rewel pada anak menggambarkan kondisi badan yang sakit, nyeri
dan butuh diringankan. Jika hanya demam, cukup tenangkan anak. Bagi balita
sebaiknya digendong.
Ø
Saat demam, yang harus dipastikan adalah
ketersediaan cairan tubuh pada anak. Bagaimana pipisnya? Normal, berkurang atau
tidak sama sekali. Cairan tubuh sangat diperlukan agar anak tidak mengalami dehidrasi.
Saat demam pastikan asupan ASI atau air putih tetap diminum. Hal ini menjaga
kondisi tubuh untuk tetap stabil.
Ø
Saat ingin mengkompres anak, gunakan air hangat
dan usap secara merata ke seluruh tubuh, terutama bagian-bagian lipatan tubuh. Jika sulit bisa juga direndam dalam air hangat
(kondisi seperti sauna), sehingga tubuh berkeringat dan demam lekas turun.
Ø
Ensefalitis disebabkan oleh entrol virus. Entrol
virus bisa didapatkan melalui udara atau karena tidak sengaja termakan oleh
anak.
Ø
Dalam setiap manusia, di hipotalamus dalam otaknya
sudah terprogram suhu demam tertingginya. Oleh karena itu kondisi dari tiap
orang bisa berbeda-beda, ada yang suhu 38,39, 40 derajat. Ada yang 38 derajat
langsung terkena kejang,namun ada yang 40 derajat tidak mengalami kejang. Kejang terjadi bukan karena tingginya suhu
demam, tapi karena genetis. Saat anak kejang, alangkah baik jika tubuhnya dimiringkan.
Obat anti kejang boleh diberikan pada kondisi tertentu, diberikan oleh dokter
atau perawat obat anti kejang biasanya Diazepam.
Ø
Pada kondisi normal, kejang akan terjadi
beberapa detik dan tidak berulang. Jika memang memerlukan obat anti kejang, biasanya
setelah pemberian obat tersebut anak akan sadar kembali. Jika kejang terjadi
berulang kali dan anak tidak sadar atau
mengalami penurunan kesadaran, hal ini harus diwaspadai serta ada tindakan
lebih lanjut.
Ø
Penyakit yang disebabkan virus, maka tidak
diperlukan pemberian antibiotik.
Ø
Penyakit yang disebabkan bakteri, maka diperlukan
pemberian antibiotik.
Ø
Dalam tubuh manusia ada bakteri baik yang
membantu proses kerja tubuh. Bakteri baik biasanya terdapat di saluran
pencernaan. Gunanya membantu pembusukan makanan. Cara kerja antibiotic adalah
membunuh bakteri jahat dalam tubuh. Jika penyakit yang diderita bukan karena
bakteri, maka bakteri jahat tidak ditemukan, yang ditemukan hanya bakteri baik.
Hal ini akan menimbulkan kelebihan antibiotik Ã
maka bakteri dalam usus akan dibunuh à anak
mencret à gampang
sakit.
B. Demam Dengue &
Demam Berdarah Dengue
Sejak tahun 1968 hingga tahun 2009, WHO mencatat bahwa
Indonesia sebagai Negara dengan kasud DBD tertinggi di Asia Tenggara. Kasus ini
tersebar di seluruh 33 provinsi di Indonesia; di 357 dari total 480 kabupaten.
Definisi:
1. Demam Dengue (DD) Ã
Demam yang disebabkan infeksi virus Dengue.
2. Demam Berdarah Dengue (DBD) Ã Demam Dengue disertai
kebocoran plasma.
3. Dengue Shock Syndrome (DSS) Ã DBD derajat III & IV.
1. Demam Dengue (DD)
à Demam akut selama 2-7
hari disertai 2 atau lebih manifestasi berikut:
nyeri kepala, nyeri belakang bola mata, nyeri otot/ tulang/
sendi, ruam, manifestasi perdarahan (petekie dan uji tourniquet positif), luekopenia.
Gejala lain:
Mual, muntah, lemas, lesu, nafsu makan turun, jarang
disertai batuk pilek.
Manifestasi
perdarahan spontan:
Petekie, purpura, ekimosis perdarahan hidung, gusi, saluran
cerna, saluran kemih.
Tidak ditemukan tanda-tanda perembesan plasma seperti
peningkatan hematokrit, efusi, asites.
2. Demam Berdarah
Dengue (DBD) Ã
- Gejala seperti DD
- Manifestasi perdarahan dengan uji torniquet positif (rumple
lead/ uji bendung), atau perdarahan spontan petekie, memar pada kulit,
perdarahan hidung, perdarahan saluran cerna (muntah darah atau tinja berwarna hitam),
perdarahan saluran kemih.
- Trombositopenia (jumlah trombosit < 100.000/ml)
- Terdapat minimal 1 tanda kebocoran plasma:
a. Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar,
b. Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi
cairan disbanding nilai hematokrit sebelumnya,
c. Tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites,
hipoproteinemia, hiponatremia.
3. Dengue Shock
Syndrome (DSS) Ã
- Perembesan plasma biasanya terjadi pada saat peralihan
dari fase demam (fase febris) ke fase penurunan suhu (fase afebris), hari ke 3-7
(selama 24-48 jam).
- Masa kritis terjadi pada akhir fase demam, saat penurunan
suhu, hari 3-7 demam.
Timbul kegagalan sirkulasi (shock).
Gejala Shock:
-
Lemas, gelisah, hingga penurunan kesadaran (lethargic).
-
Nadi cepat, terabit lemah hingga sulit teraba.
-
Tekanan darah turun dan tekanan nadi <20
mmHg.
-
Kulit dingin-lembab, sianosis (pucat-kebiruan)
sekitar mulut.
-
Jumlah urin berkurang atau tidak buang air
kecil.
Kesimpulan:
Virus DBD berada di tubuh manusia selama 7 hari. Walaupun membawa
virus, manusia tetap bisa sehat jika daya tahan tubuhnya baik.
Ketika DBD, yang harus dijaga dari pasien adalah Trombosit,
Hematokrit dan cairan tubuhnya tetap stabil.
C. Demam Tifoid/
Tifus
-
Disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Bakteri
ini bisa berada dalam tubuh manusia selama 1 tahun.
-
Ditularkan melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi tinja atau urin yang mengandung bakteri.
-
Gejala muncul 1-3 minggu setelah terpapar kuman.
-
Gejala: demam >7 hari, bisa disertai mual,
sakit kepala, diare, konstipasi, rose spot di dada dan perut, dan lidah kotor.
-
Menegakkan diagnosis demam tifoid dengan:
a. gejala dan pemeriksaan fisik memegang
peran utama.
b. pemeriksaan penunjang:
- KULTUR/ BIAKAN DARAH, tinja, urin, sumsum
tulang à gold
standard
Kelemahan kultur: lama, mahal, fasilitas
terbatas.
Pemeriksaan lainnya:
Widal, IgM anti Salmonella typhi, dll
-
Tifus hanya terjadi 1 kali seumur hidup, jadi
jika berulang bukanlah tifus, kemungkinan ada penyakit lain yang harus dicari
tahu.
Kesimpulan:
-
Hati-hati overdiagnosis demam tifus
-
Pengobatan dengan antibiotik yang tepat sangat
penting dalam mengatasi tifus
-
Imunisasi berperan dalam mengurangi kejadian
sakit tifus