Mengapa disiplin
tidak mudah?
-
Disiplin masalah paling rumit di dunia.
-
Inkonsistensi antarpasangan karena pengalaman
masa kecil mempengaruhi: Gaya disiplin sekarang.
-
Kepribadian anak dan kedua orangtuanya sangat
berbeda.
-
Sejauh mana kewenangan kita terhadap anak?
-
Tidak mudah menyeimbangkan: keunikan anak,
batasan yang tegas, fleksibilitas.
-
Orangtua tidak tahu:
·
Bagaimana cara yang tepat dan benar
·
Kapan & bagaimana?
·
Apa akibat jangka pendek dan panjangnya?
·
Hasil pendisiplinan tidak tampak segera
Pengasuhan = Pengalaman
& Pembiasaan
Selesaikan dulu urusan Anda dengan pasangan Anda, maka
penerapan disiplin akan lebih mudah.
Gaya disiplin popular
-
Hukuman, hadiah, pukulan atau paksa saja
Tujuan hukuman:
-
Membuat anak menyesal atau menyakitinya, karena
dia telah berkelakukan tidak baik/ pantas.
-
Anak tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
-
Agar efektif hukukuman harus sangat keras
sehingga anak tidak mengulangi perbuatannya.
Apakah benar hukuman membuat
anak belajar dari kesalahannya? Tidak mengulangi perbuatannya? Jera? Takut?
Mengapa hukuman
kurang efektif, sebab:
-
Apakah anak tahu apa yang harus dilakukan ketika
situasi yang sama muncul lagi?
-
Siapa yang mengendalikan situasi? Tanggung jawab
ada pada siapa? Apa yang dipikirkan anak?
Orangtua menghukum
karena: Marah, kecewa, takut, khawatir, bingung.
Akibat hukuman:
-
Merusak harga diri anak karena menyakitkan
secara fisik dan perasaan.
-
Takut pada orangtua, melawan orangtua.
-
Berbohong, melakukan sesuatu diam-diam.
-
Efektif (jika
dibawah 7 tahun) & Tidak efektif (jika
terlalu sering dilakukan)
Makna Hadiah:
-
Hadiah mengajarkan anak: mereka punya hak
mengharapkan bayaran untuk melakukan sesuatu bukan untuk bekerjasama.
-
Hadiah memang bisa berakibat lebih baik dan
menyenangkan tapi tidak bisa terus menerus.
-
Hadiah bukan “sogokan”
-
Hadiah bukan selalu “benda”
-
Hadiah harus sesuai usia
Apa akibat dari pukulan?
-
Penelitian dari Duke University menunjukkan:
·
Bayi 12 bulan yang dipukul memiliki score test
kognitif yang lebih rendah dari anak yang tidak dipukul pada usia 3 tahun.
-
Peneliti dari Tulane University: sekitar 2500
anak-anak yang diteliti yang biasa/ sering dipukul pada usia 3 tahun akan
cenderung lebih agresif pada usia 5 tahun
-
Anak yang lebih agresif akan lebih banyak
dipukul → Lingkaran setan
-
Pukulan tidak mengajarkan apa yang seharusnya
dia lakukan, tapi apa yang boleh saja dilakukan.
-
Tidak akan bermakna kalau terlalu sering.
-
Kalau terpaksa melakukan, jelaskan: Mengapa?!
-
Anak yang dipukul cenderung berperilaku
menyimpang
-
Menuntut pemenuhan/ kepuasan segera dari semua
keinginan dan kebutuhannya
-
Mudah frustasi, temper tantrum dan gampag
memukul orang lain
-
Pukulan menanamkan lebih banyak ketakutan dibanding
pengertian.
-
Jangan memukul jika hanya untuk menyakiti.
-
Pukulan membuat anak merasa: “Saya jelek atau
tidak berguna”.
Mengapa anak
bertingkah laku tidak seperti yang diharapkan?
-
Belum mampu
-
Anak mungkin: ingin tahu, capek, sakit, lapar,
bosan, canggung, atau sekedar mencari perhatian.
-
Lagi pengen “nge test” dan unjuk kemampuan diri
-
Aturan tidak jelas
-
Mereka telah diberi hadiah untuk tingkah laku
yang tidak baik
-
Meniru orangtua
-
Merasa diri tak berharga
-
Melindungi dirinya
Jadi, apa itu
disiplin?
·
Disiplin # Hukuman, Latihan dan kepatuhan.
·
Disiplin, = memberi petunjuk → ber”perilaku”.
Makna disiplin
Disiplin adalah pengasuhan. Disiplin adalah mengajar
kelakuan
Disiplin = Membangun kontrol dalam diri:
-
Mampu mengontrol dan mengendalikan diri
-
Bertanggung jawab kepada Allah
-
Memahami perasaan diiri dan orang lain
-
Mengutamakan pikiran daripada perasaan
-
Memiliki pertimbangan yang baik
-
Mampu bekerjasama dengan baik
-
Pribadi yang menyenangkan dan bahagia
Beda disiplin dan
hukuman
Disiplin
|
Hukuman
|
Membantu anak memiliki kesadaran diri & membangun kontrol dalam
dirinya.
|
Menunjukkan pada anak bahwa dia nakal atau jelek.
|
Membatu ia merasa OK.
|
Tidak membantu anak sadar diri, mengontrol kelakuan dan belajar apa
yang seharusnya dilakukan.
|
Memberi ia kesempatan untuk memperbaiki diri.
|
Tak berhubungan dengan kelakuan dan masuk akalnya.
|
Membuat ia bertanggung jawab dengan perbuatannya.
|
Dasar disiplin:
-
Anak adalah anugerah dan amanah Allah
-
Bangga dapat kesempatan mengasuh mereka →
perlakuan harus sebaik mungkin
-
Muliakanlah anakmu dan ajarkanlah akhlak yang
baik
-
Perkembangan otak belum sempurna → egosentris
dan berfikir berbeda dengan kita.
-
Anak membutuhkan bimbingan & cinta &
logika, saling menghormati & saling menghargai
Fungsi disiplin:
Disiplin memberitahukan kepada anak:
1.
Hal apa yang orangtua ingin dilakukan anak,
mengapa orangtua menginginkannya?
2.
Hal yag orangtua tidak ingin dilakukan anak,
mengapa tidak boleh?
3.
Membentuk kebiasaan & meninggalkan kenangan
Keunikan pendekatan
disiplin dengan kasih sayang (DKS):
1.
DKS = Pikirkan perasaan anak
2.
DKS = Mengajukan pertanyaan untuk merubah
tingkah laku
3.
DKS = Ajarkan keterampilan untuk tidak
mengulangi tingkah laku negative
4.
DKS = Gunakan kalimat singkat & aturan 2
kalimat
5.
DKS = Fokus pada hal yang positif
Manfaat melakukan 5
pendekatan DKS
-
Memahami cara berfikir anak untuk dapat
mendisiplinkannya
-
Beralih dari model disiplin hukuman yang
menyakitkan ke model pendisiplinan yang efektif dan tidak merusak harga dan
kepercayaan diri anak.
-
Memahami mengapa anak menjadi “nakal kronis” dan
menghindarinya.
Pendekatan DKS I :
Pikirkan perasaan anak
Anggapan yang keliru
tentang tingkah laku
Kita berfikir:
“Segala tingkah laku berkaitan dengan pemikiran”.
Kita percaya bahwa setiap orang memikirkan apa yang mereka
lakukan sebelum, selama dan setelah mereka melakukan.
Ternyata: Sebagian
besar tingkah laku didorong oleh perasaan / emosi daripada pemikiran.
Pantaskah anak-anak harus
dihukum karena kesalahan mereka?
Dewasa: EPA (Emosi,
Pikiran, Aksi) ; Anak-anak: EAP (Emosi, Aksi, Pikiran)
2 Aspek perasaan yang
diperhatikan:
-
Perasaan apa yang mendorong kelakuan/perbuatan
anak?
-
Bagaimana perasaan anak setelah pendisiplinan
terjadi? → jangan sampai anak merasa terhina, bodoh dan takut.
Untuk mendisiplinkan anak:
Pikirkan perasaannya → Pelan-pelan alihkan ke proses
berfikir.
1.
Pendekatan DKS II: Mengajukan pertanyaan
untuk merubah tingkah laku
Mengapa anak sulit mengendalikan tingkah laku?
1.
Anak jarang memperhatikan situasi sekitarnya
bahkan diri sendiri
2.
Anak tidak memahami apa yang terjadi
3.
Tidak sadar apa yang mungkin mereka lakukan
4.
Mengetahui peraturan tidak menyadari &
menginsyafi apa yang dikatakan orang
5.
Lupa # tidak peduli
Mengapa harus
bertanya? Bertanya → Harus menjawab → Berfikir → Memeriksa diri → Kesadaran
diri
Memerintah
|
Bertanya
|
Anak tidak memperhatikan tingkah laku.
|
Anak memperhatikan yang dilakukannya.
|
Anak tidak berfikir, hanya patuh.
|
Membuat anak berfikir sebelum berespons.
|
Tidak membangun kesadaran diri/ internal tentang tingkah laku.
|
Menggugah kesadaran diri.
|
Selalu perlu dikendalikan.
|
Anak mengendalikan dirinya.
|
Tidak tahu apa yang dilakukan lain kali.
|
Tahu apa yang akan dilakukan lain kali.
|
Tanggung jawab pada orangtua.
|
Tanggung jawab pada anak.
|
Otoritas eksternal.
|
Otoritas internal.
|
Kontrol dalam diri anak
VS diluar diri
-
Kalau anak hanya memperhatikan orangtua: Anak
akan bermasalah mengembangkan kesadaran dirinya: Apa yang harus dilakukan kalau
orangtua tidak ada?
-
Kontrol diluar diri penting → keselamatan hidup.
-
Kontrol dalam diri → sadar diri apa yang sedang
dilakukan, mengambil keputusan bagaimana respon tepat atau yang terbaik, tanpa
harus diberi tahu orangtua.
-
Kesadaran diri awal otoritas internal/ kendali
diri.
Syarat bertanya:
-
Tidak dalam nada: menuduh, menyindir,
menunjukkan bahwa anak bodoh & tidak paham.
-
Membuat anak membela diri.
-
Tidak mengundang perhatian anak terhadap tingkah
laku mereka.
-
Remaja membutuhkan waktu yang lama untuk
menyadari bahasa tubuhnya.
Langkah kesadaran
diri:
·
Buat aturan
·
Sepakati bersama
·
Diterapkan : Bertanya
·
Konsekuensi – Evaluasi
Dasar merumuskan
aturan = Katakan pada anak mengapa aturan itu perlu:
-
Ayah & Ibu sayang & peduli sama kamu.
-
Kami ingin kau terlindungi dan aman.
-
Kami menginginkan budi bahasamu baik.
-
Kami ingin kamu mandiri & bertanggung jawab.
-
Kami ingin kamu tahu bagaimana belajar hidup
bersama orang lain dan menyenangkan.
Kunci membuat aturan:
-
Aturan:
seperangkat harapan terhadap anak berupa panduan dan batasan.
-
Didasari:
Kepedulian, cinta dan kesepakatan.
-
Prioritas:
Yang penting didahulukan.
-
Batasan,
harus jelas alasannya.
-
Peraturan
harus: masuk akal.
-
Libatkan anak.
-
Jelas & positif.
-
Konsisten.
-
Konsekuensi.
Penerapan aturan:
-
Dasarnya:
kesepakatan & konsekuensi
-
Saling respek
-
Jelaskan aturan dan pastikan anak mengerti
-
Pastikan aturan sangat perlu
-
Fahamkan:
Konsekuensi perlu
-
Terapkan
-
Evaluasi
Pendekatan DKS III =
Ajarkan keterampilan untuk tidak mengulangi tingkah laku negatif
Mengapa perlu mengajarkan keterampilan mengatasi emosi/ kendali
diri dan keterampilan sosial?
-
Aspek “mengajarkan” sering diabaikan dalam
“pendisiplinan” anak.
-
Orang dewasa harus membantu anak & remaja
mengembangkan kemampuan yang mereka perlukan untuk mencegah mereka mengulangi
tingkah laku negatif.
Anak harus diajari:
-
Tidak bereaksi atas dasar emosi,
-
Memikirkan konsekuensi dan
-
Bagaimana membantu diri sendiri melakukan apa
yang mereka tidak suka: PROSES
1.
Temukan keterampilan yang hilang
2.
Role play
Pendekatan DKS IV =
Gunakan kalimat singkat atau aturan 2 kalimat
Dua cara mengatasi
frustasi dan marah sendiri:
1.
Gunakan kalimat singkat berulang-ulang daripada
ceramah yag panjang.
2. Pegang
pada “aturan 2 kalimat”: berhenti bicara setelah mengatakan 2 kalimat. Semakin panjang, semakin diabaikan (Sandra
Halperin Ph.D)
Alasan mengulangi
kalimat singkat:
-
Kalimat pendek lebih efektif untuk menyuruh anak
melakukan sesuatu yang benar daripada melarang mereka berhenti melakukan yang
salah.
Contoh: “makanan yang sehat” atau “ingat
langsing!”daripada “Jangan makan coklat itu!”
-
Pesan rutin: “jangan” → mudah diabaikan
-
Pesan “lakukan” akan membuat mereka melakukan
daripada yang tidak boleh dilakukan
-
Segera setelah pesan positif berkali-kali,
mereka akan mengulang bagi dirinya sendiri.
-
Tidak membutuhkan dorongan dari luar & tidak
membutuhkan banyak tenaga dari orangtua.
-
Kalimat pendek: direktif, positif, fokus pada
tingkah laku khusus yang perlu dipelajari anak.
-
Kalimat tersebut hanya terdiri dari 2-3 kata,
bisa satu kata, sebaiknya mengingatkan anak untuk mengendalikan diri.
Kiat-kiatnya:
-
Kata-kata singkat “rambu-rambu lisan” bagi anak.
-
Ulangi kata-kata mantap dan positif.
-
Jangan beralih ke nada marah & tajam,
menimbulkan reaksi emosional bukan proses berfikir.
-
Tujuannya adalah terbiasa berfikir.
-
Jangan mengaitkan: kalimat perintah dengan
komentar tentang watak atau potensi pribadi.
-
Hindari untuk mengomentari ketidakmampuan anak
untuk bertindak tepat atas inisiatif sendiri: “Itu saja kok gak bisa sih!”
-
Kalimat pendek tidak dilekatkan pada kata atau
komentar lain → kehilangan kekuatan dan tidak efektif sebagai alat disiplin.
Jelaskan dan buat
kesepakatan terlebih dahulu:
-
Anak harus terlatih untuk mengerti apa yang
diharapkan untuk dilakukan saat ia mendengarnya.
-
Jelaskan pada anak dan buat kesepakatan.
Mulai
saat ini dan seterusnya: Kalau mama bilang: “tetap kerjain” itu berarti kamu
harus berusaha mengerjakan apa yang kamu kerjakan sampai selesai. Kamu bisa
bilang sama dirimu sendiri “tetap kerjakan tugas!”. Jadi kita tidak harus
berdiskusi setiap saat perhatianmu teralih, bisa kan?
Pilih kalimat dengan
hati-hati:
-
Putuskan:
Kalimat apa yang paling berhasil untuk suatu situasi.
-
Ingat: Apa
yang perlu dipelajari anak.
-
Tujuannya:
Membantu anak membangun keterampilan manajemen tingkah laku yang
terinternalisasi.
Apa manfaatnya aturan
2 kalimat?
-
Tidak terlibat dalam aturan yang panjang &
melelahkan
-
Bagus bagi semua orang
-
Mengurangi banyak tekanan dan tidak dicurangi
-
Anak-anak belajar menerima keputusan yang ebih
cepat
Pendekatan V DKS:
Fokus pada hal positif
Mengapa perlu?
-
Kita perlu menunjukkan kepercayaan dan
pengenalan bahwa anak memiliki bakat, pembawaan, atau watak yang positif.
-
Penting mengakui tingkah laku baik dari anak
-
Bagaimana menolong anak menggunakan kekuatan
positif yang mereka miliki untuk mengatasi dan menghentikan tingkah laku
negative.
-
Menolong anak untuk tidak merasa selalu salah dan
jelek dan itu diketahui semua orang.
-
Semakin awal semua hal yang positif pada anak
dikenali dan diakui, semakin cepat kelebihan tersebut berkembang.
-
Anak suka mengetes apakah orangtua dan guru
sungguh-sungguh mempunyai cara pandang yang positif terhadap kemampuan mereka.
Hal yang perlu
diperhatikan:
-
Anak-anak peka terhadap harapan orang dewasa
-
Seringlah memuji
-
Pujilah perbuatannya dan bukan orangnya
-
Pujian sederhana juga berhasil
-
Bantu mereka melihat masa depan
-
Gambarkan masa depan dengan istilah yang
emosional
Bantu mereka melihat masa depan, jangan jatuhkan!
Dirangkum oleh: MG