Contact Form

 

Kini kami tahu tentang ULAR


Sekolah Alam Cikeas menyimpan banyak sekali keanekaragaman hayati, salah satu diantaranya ada ular yang merupakan bagian dari rantai kehidupan alam semesta. Kondisi alam yang rimbun dengan berbagai pepohonan dan belukar, menjadi area yang perlu diwaspadai sebagai tempat tinggal ular.

Pada dasarnya ular takut dengan manusia, upaya yang ia lakukan seperti menyerang atau menggigit lawan merupakan bagian dari pertahanan dirinya.



Hari ini siswa Sekolah Alam Cikeas mendapat informasi berharga dari kakak-kakak komunitas pecinta reptil ASPERA. Mereka belajar tentang ciri-ciri reptil, amphibi, dan perbedaannya. Lalu jenis-jenis ular berbisa dan tidak berbisa, juga cara membedakannya. Ternyata, ular berbisa ada yang menyerang syaraf dan ada yang menyerang darah.  


Mereka juga diberitahukan tentang mitos-mitos seputar ular, seperti ular takut garam, dan lain-lain. Dari aktifitas ini para siswa tahu, bahwasannya ular tidak suka dengan bau menyengat dan akan menjauhinya, seperti bau parfum dan karbol.

Cara yang dilakukan saat ada yang tergigit ular juga diajarkan, yakni dengan membalut area yang dekat dengan tempat gigitan. Informasi berharga ini sangat menarik bagi anak-anak, karena merupakan bagian dari life skill mereka untuk survival di alam.




Setelah penjelasan kakak-kakak komunitas ASPERA, ada sesi tanya jawab. Anak-anak semangat sekali dan bertanya hingga puas. Kemudian giliran kakak ASPERA yang bertanya kepada mereka. Mereka pun antusias menjawab pertanyaan kakak-kakak ASPERA, sebab hadiahnya anak-anak boleh berfoto dengan ular, iguana, biawak dan juga kura-kura yang dibawa oleh ASPERA.


Sungguh pengALAMan berharga dan sangat menyenangkan hari ini. Bagi anak-anak Sekolah Alam Cikeas yang ingin tahu lebih lanjut tentang reptil terutama tentang ular, mereka bisa bergabung di komunitas ASPERA. Menyenangkan sekali ya!




Total comment

Author

Unknown

Saung Kelas di Sekolah Alam Cikeas



Ditengah maraknya sekolah dengan gedung tinggi dan ber-AC dibangun, Sekolah Alam Cikeas menawarkan konsep baru pada sebuah sekolah. Kelas yang menyatu dengan alam, minim tembok, unsur kayu dan tradisionalisme yang di usung. Bangunan kelas di Sekolah Alam Cikeas sebagian besar bernuansa rumah adat Indonesia Barat yang disebut saung. Bangunan saung banyak menggunakan material kayu dan batu alam serta atap menggunakan alang-alang. Saung kelas dibuat dengan konsep ramah lingkungan, dimana bentuknya terbuka, sehingga tidak perlu menggunakan pendingin ruangan (AC) dan lampu menyala terus menerus, maka lebih menghemat listrik.
Hal ini dilakukan karena Sekolah Alam Cikeas mengangkat konsep konservasi lingkungan dalam aplikasi pendidikannya. Material bangunan yang digunakan diusahakan material yang sesuai dan banyak dijumpai di Nusantara.
Bangunan saung kelas juga menggunakan sistem ‘umpak’, yaitu bangunan tidak dicor tetapi hanya didudukkan di atas pondasi. Manfaat dari sistem umpak ini adalah bangunan tersebut lebih tahan gempa dibandingkan bangunan-bangunan yang pondasinya di cor.
Setiap saung kelas dilengkapi wastafel, toilet dan tempat wudhu’.
Satu bangunan saung kelas terdiri dari kelas bagian atas dan kelas bagian bawah. Biasanya SD diatas dan kelas bawah diisi siswa TK. Sejak 2006 hingga 2015 sudah terdapat 8 saung kelas yang berdiri.

Saung kelas pertama berdiri tahun 2006
Saung kelas kedua berdiri tahun 2006
Saung kelas ketiga berdiri tahun 2007
Saung kelas keempat berdiri tahun 2007
Saung kelas kelima berdiri tahun 2008
Kelas bata berdiri tahun 2010
Saung kelas keenam berdiri tahun 2010
Saung kelas ketujuh berdiri tahun 2011
Saung kelas kedelapan berdiri tahun 2013


Total comment

Author

Unknown

Selangkah Menuju Adiwiyata Nasional


Komitmen Sekolah Alam Cikeas  untuk menjadi sekolah yang berbasis lingkungan telah menghantarkannya pada sebuah proses yang luar biasa. Pada 12 Oktober 2016 Sekolah Alam Cikeas diverifikasi oleh tim Adiwiyata Nasional untuk menjajaki kelayakan sekolah ini memperoleh penghargaan Adiwiyata Nasional. Kelengkapan dokumen dan aplikasi pendidikan berwawasan lingkungan dalam pembelajaran sehari-hari diperiksa secara detil. 
Penghargaan bergengsi bagi institusi yang berwawasan lingkungan ini ada beberapa tahapan, mulai dari Adiwiyata tingkat Kabupaten, Adiwiyata Provinsi, Adiwiyata Nasional dan terakhir Adiwiyata Mandiri. Penghargaan Adiwiyata ini merupakan pengakuan pemerintah terhadap sebuah institusi yang berkomitmen menjaga lingkungan. Dengan diraihnya penghargaan ini, Sekolah Alam Cikeas semakin membuktikan bahwa keberadaannya memiliki andil dalam menjaga kelestarian lingkungan di Indonesia. 



Total comment

Author

Unknown

EKSPLORASI WARNA KUNING



Siswa Play Group sedang mengenal konsep warna dasar yaitu warna kuning. Karena itu mereka memakai pakaian berwarna kuning. Ibu guru mengajak mereka berkeliling di sekitar sekolah untuk mencari benda-benda yang berwarna kuning. 

Para siswa menemukan tempat sampah yang berwarna kuning yaitu tempat sampah residu, lalu ada juga tembok kelas dan tangga kelas di SD 5 dan SD 6. Selain itu ada tanaman kacang-kacangan dan aster yang memiliki bunga berwarna kuning. Ada juga sign system sekolah yang berwarna kuning. Anak-anak berlomba mencari benda-benda berwarna kuning sebanyak-banyaknya. Ternyata banyak sekali benda-benda di sekitar sekolah yang berwarna kuning.

Setelah berkeliling dan menemukan benda-benda berwarna kuning, Ibu guru mengajak anak-anak bermain “Lompat warna” di taman. Papan warna ada 2 (dua), yaitu merah dan kuning, cara bermainnya sangat mudah yaitu dengan cara melompat 2 (dua) kaki dan menginjak papan warna sesuai instruksi. Semua siswa mencoba permainan ini secara bergantian. Yang tepat melompat dan menginjak papan warna maka akan mendapat 1 (satu) bintang sebagai reward

Itulah kegiatan siswa Play Group di Sekolah Alam Cikeas kali ini, sampai bertemu kembali dengan cerita kegiatan lainnya.
 

(edited by: MG)





Total comment

Author

Unknown

Upgrading Teachers in Outbound Competencies



Guru bukan hanya mengajar tapi mendidik. Relevansi dari pernyataan tersebut adalah guru bukan hanya bicara tapi mampu menjadi  teladan. Inilah mengapa setiap tahun Sekolah Alam Cikeas (SAC) selalu membekali semua gurunya dengan berbagai pelatihan. Salah satunya adalah pelatihan outbound. Dalam pelatihan ini guru ikut  melakukan dan merasakan kegiatan yang siswanya lakukan saat kegiatan outbound. Bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri, mau mencoba, mengalahkan rasa takut serta menjadi pemimpin kelompok. Kegiatan outbound guru kali ini meliputi permainan team building, instalasi outbound dan fire fighting.


a. Blind run
Setiap kelompok harus berlari bersama dengan mata tertutup  menuju sebuah tempat hanya dengan mendengarkan instruksi dari pemimpin kelompok. Permainan team building kali ini mengasah kemampuan untuk berstrategi, sabar, kerjasama, yang paling penting adalah tenggang rasa dan menerima kekalahan. 
Instalasi outbound terdiri dari 3 instalasi, yakni trust fall, falling free, Elvis bridge, raffling.

b. Trust fall
Seseorang membalikkan badan dan menjatuhkan diri ke sebuah jaring yang dibentangkan oleh teman-teman kelompoknya. Manajemen dalam kelompok, saling percaya dan bertanggung jawab antar anggota kelompok diasah dalam permainan ini. Bagi orang-orang yang tidak yakin dengan kemampun dirinya dan tidak percaya dengan temannya trust fall ini sangat sulit dan menakutkan. 



c. Falling free
Pada instalasi ini, kita cukup menaiki tangga bambu yang mirip dengan tangga darurat pada sebuah helicopter.  Setelah mampu memanjat sampai atas tangga, lalu turun perlahan dengan melepaskan tangan dari tangga dan memegang tali yang ada di badan. Kepercayaan diri sangat dibutuhkan, stamina tidak dipungkiri sangat menunjang kita melakukan aktivitas ini. Saling percaya dengan teman dan pastinya safety setiap kegiatan diutamakan. Peralatan seperti tali, sarung tangan, helm, pemakaian webbing atau harness yang benar dan sesuai prosedur mendukung lancarnya kegiatan ini.



d. Elvis/ Bamboo bridge
Berjalan diatas titian bamboo yang berada di ketinggian 3 meter cukup menguji nyali. Masalahnya bambu dibuat menjadi tiga bagian, peserta harus berjalan pada bambu pertama lalu melangkah menyeberangi bambu kedua dan ketiga. Karena bambu tersebut terpisah maka kita akan bergoyang-goyang ala Elvis sang penyanyi legendaris.

e.Raffling dari menara setinggi tujuh meter
Naik keatas tower setinggi tujuh meter dan menuruninya melalui tali atau papan titian dengan bergelantung di tali. Peserta bisa menguji adrenalin lebih dengan melakukan posisi terbalik (kepala dibawah kaki diatas. Lagi-lagi kepercayaan diri dan kepercayaan kepada teman sangatlah dibutuhkan.



f. Fire fighting menggunakan karung basah dan APAR
Setiap orang ditantang untuk memadamkan api menggunakan karung basah dan APAR. Safety dan teknik saat melakukan hal tersebut menjadi poin utama suksesnya hal tersebut. Kegiatan ini bertujuan membekali guru dengan kemampuan memadamkan api dan tidak panik saat melihat api.



Guru menjadi garda terdepan bagi proses pendidikan siswa. Semua hal yang dilakukan pada pelatihan outbound kali ini untuk meningkatkan kompetensi pribadi guru Sekolah Alam Cikeas. Mengingat banyaknya kegiatan outdoor seperti  Outcamp dan Project Based Learning, maka skill ini menjadi poin penting penilaian bagi guru Sekolah Alam Cikeas. 




Total comment

Author

Unknown