- Ayah Bunda,
Memberikan fasilitas hand phone dengan pulsanya,
rumah ber-wifi, TV berbayar, video games, kepada anak dirumah harus dilakukan
pendampingan dan pengarahan. Hal tersebut dapat terlaksana jika ada komunikasi
yang baik antara orangtua dengan anak.
-
Semua fasilitas yang disediakan orangtua
bukanlah “pengalihan” agar anak diam, punya kegiatan dan tidak mengganggu
orangtua, sebab jika ini alasannya, hal tersebut bisa menjadi awal “bencana”
yang sebenarnya sedang orangtua ciptakan.
Ayah Bunda,
Seringkali sebagai orangtua kita merasa “aman”,
padahal dari internet yang kita bayarkan tiap bulannya anak bisa mengakses apa
saja yang ia inginkan, bahkan ada hal-hal yang tidak diinginkan tapi tidak
sengaja terakses.
-
Orangtua tidak boleh “gaptek”, kuasai cara
berinternet, cek riwayat koneksinya, “berteman” dengan anak, ikuti
perkembangannya, arahkan, kontrol, diskusikan dengan anak, ajak mereka bijak
berinternet.
-
Jika anak hobi membaca komik, sebaiknya orangtua
juga mengetahui isinya. Layak atau tidak komik tersebut “dikonsumsi” anak.
Kenalkan beragam jenis bacaan seperti cerita fiksi, dongeng, petualangan, kisah
Nabi dan Rasul/ para sahabat.
Ayah Bunda,
Games di abad 21 ini gambar lebih realistis,
pemain bisa memilih karakter yang diperankan, keterampilan lebih kompleks &
kecekatan tinggi (Mark Griffiths, Nottingham Tren University).
Yang menjadi tujuan adalah kepuasan
psikologis dan kecanduan lebih besar (Harris interactive, research online).
-
Ayah Bunda,
Jadwal menonton TV harus diatur dan
dipilah tayangan mana yang boleh dan mana yang tidak. Pendampingan saat
menonton sangat penting, berikan program pengganti yang lebih baik bagi anak.
Didalam bioskop banyak hal yang perlu dipilah,
cocok atau tidak dengan usia anak kita? Sebaiknya dipikirkan perlukah ke
bioskop? Pikirkan pula iklan film sebelum, ditengah atau sesudah film diputar. Apakah
sesuai dengan usia anak dan bagaimana dampaknya jika ia menontonnya?
Ayah Bunda,
Semua hal diatas dapat terjadi
karena peran orangtua sebab anak belum mampu membeli atau mengadakan “sendiri”
semua fasilitas tersebut tanpa campur tangan awal dari orangtua. Baik - buruk,
positif - negatif yang terjadi pada
anak-anak kita saat ini sebenarnya ada dibawah kontrol orangtua. Anak-anak
hanyalah “korban” dari keegoisan zaman.
Ayah Bunda,
Komunikasi adalah jembatan utama
agar kita bisa masuk ke dunia anak. Komunikasi yang baik dengan anak mempermudah
kita untuk dekat dan membuat anak selalu berterus terang dengan hal-hal yang
dihadapinya.
- Ayah Bunda,
Jangan lupa rumuskan tujuan
pengasuhan di keluarga yang sedang Ayah Bunda bangun. Pastikan tujuan
pengasuhan awal adalah menjadi hamba Tuhan yang bertaqwa. Jika keluarga kita
mengedepankan agama diatas duniawi, maka keberkahan akan mengikuti.
Sebab kebaikan yang kita terima saat ini
adalah hasil dari nilai-nilai agama yang dipraktekkan dalam kehidupan
sehari-hari. Ingat! Waktu ayah Bunda akan menikah dan saat menikah, agamalah
yang menjadi landasan. Tuhanlah yang membuat ayah Bunda bersatu dan sah sebagai
pasangan suami istri. Karena itu kembalikan agama dalam keluarga, hadirkan
Tuhan dalam setiap hari yang dijalani.
Terakhir, pulanglah Ayah kerumah…
Keluarga yang
lengkap terdiri dari Ayah, Bunda dan Anak. Kembalikan peran Ayah sebagai
penentu keluarga, Bunda sebagai pelaksana teknis keluarga. Jika peran ini
terlaksana dengan seimbang, anak merasa bahagia, maka akan terwujud keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Dengan begitu,
tantangan seberat apapun yang akan dihadapi oleh anak-anak kita dizaman ini
akan bisa mereka lalui.
Yuk Ayah Bunda, mari bersama bergandengan
tangan, lindungi dan selamatkan buah hati kita ^_^. (MG)