Contact Form

 

Mengelola dan Menyelesaikan Emosi


Kelanjutan dari Seminar Enlightening Parenting di Sekolah Alam Cikeas adalah diadakannya Workshop yang membahas lebih detil skill untuk melakukan sesuatu. Sabtu, 25 Agustus 2018 lalu tim sharing Enlightening Parenting yakni Mbak Juliana Dewi dan Kang Sutedja memaparkan materi ini. 

Menurut mereka anak adalah tamu istimewa, yang punya fitrah baik. Sebagai tamu istimewa sudah selayaknya anak diperlakukan dengan perlakuan istimewa, supaya fitrahnya terjaga, menjadi manusia taat, bersyukur, meningkat dan bermanfaat. Untuk bisa menjadikan potensi baik mewujud menjadi kompetensi, anak butuh contoh dari orangtua. Pada dasarnya setiap anak adalah peniru ulung. Masalahnya mampukah orangtua mengontrol perilaku  supaya menjadi model yang baik untuk ditiru anak?


Kalau kita masih memperlakukan anak dengan kasar, menggunakan nada tinggi, gertakan, ancaman, apalagi pukulan, artinya kita sedang merusak fitrah baik anak. Simak bagaimana dampak suara keras dan perlakuan kasar orangtua pada anak dan perintah dalam Al Quran untuk melembutkan suara.


Bagaimana supaya bisa mengontrol perilaku, kata-kata, ekpresi wajah dan respon terbaik saat menghadapi anak? Kuncinya adalah pengelolaan emosi diri.  Setiap manusia mampu mengelola emosi diri, hanya saja MAU atau TIDAK.




Emosi itu bukan cuma marah, tapi bagaimana mengelola emosi negatif yang lain, seperti galau, sedih, tidak percaya diri, dan lain-lain. Ada juga emosi yang timbul akibat keyakinan yang tidak memberdayakan, misalnya  “saya ini pemalas, saya ini pemarah, saya ini tidak bisa bicara di depan orang banyak”, keyakinan lainnya yang membuat diri kurang berdaya. Berikut ini teknik mengelola emosi diri yang dapat pula membantu kita menyelesaikan konflik dengan orang lain sehingga bisa menemukan solusi agar masalahnya bisa selesai.



1. Teknik Disosiasi.
Dalam teknik ini, kita menempatkan diri sebagai observer dari sebuah masalah. Caranya, saat menghadapi sebuah situasi, mundur satu langkah, berhenti sejenak, lakukan self talk dan berpikir lalu berikan tanggapan dari situasi tersebut. Contoh: Saat anak mengeluh kepada kita, "Mama, aku ga bisa ngerjain soal yang ini, susah! aku ga mau!"
Respon yang biasa diberikan justru kebanyakan akan memarahi anak. Kalau teknik ini digunakan maka emosi kita sudah turun, kita jadi membayangkan kesusahan anak dan respon yang muncul adalah keinginan untuk membantu serta memberi motivasi agar anak mau mencoba.



2. Teknik Framing Reframing.
Sebuah proses yang dilakukan seseorang untuk mendefinisikan sebuah situasi dan memutuskan respon apa yang akan ia berikan terhadapa situasi tersebut. Pada prinsipnya mencoba berfikir positif terhadap apapun. Contohnya: Saat sedang menyetir tiba-tiba ada kendaraan lain mendahului dengan tiba-tiba dan jalan sangat ngebut. Respon biasanya adalah akan marah atau menganggap orang tersebut tidak tahu etika atau nyawanya banyak kali.
Dengan teknik ini, kita akan merespon dengan: Duh, mungkin orang itu lagi buru-buru banget kali ya, mungkin di dalam mobil ada yang mau melahirkan, atau pikiran lain yang positif dan tidak ada emosi negatif yang keluar.

3. Sub-Modality Editing.
Hal yang negatif biasanya akan mudah teringat, baik bentuknya, suaranya, rasanya. Kita bisa menghilangkan itu semua dengan cara mengubah apa yang ada di pikiran kita sehingga memunculkan respon emosi yang berbeda. Contohnya: Ketika ada orang yang membuat kita kesal, bayangkan orang tersebut adalah badut gendut yang menjengkelkan.

4. Menggugurkan Limiting Belief
Limiting belief adalah sesuatu keadaan diri yang negatif dan kita yakini, namun keyakinan tersebut justru tidak memberdayakan atau menghalangi kita berbuat sesuatu. Ada juga istilah lainnya “rantai gajah”. Contohnya: “Saya ga suka tantangan/ ribet”,  keyakinan bahwa diri kita tidak suka tantangan bisa  membuat kita melepaskan kesempatan-kesempatan luar biasa karena akhirnya kita tidak mau repot, atau tertantang melakukan apapun.




5. Perceptual position
Hampir mirip dengan metode disosiasi namun lebih dalam, sebab kita memposisikan diri ke dalam 3 posisi, yakni sebagai diri sendiri, sebagai orang yang ingin kita luapkan emosi, sebagai orang yang nasehatnya kita dengar. Contohnya: Kita merasa marah dengan perlakuan teman, ingin sekali marah padanya. Posisi 1 kita luapkan emosi, katakan apa saja yang ingin dikatakan kepada orang tersebut. Lalu pindah di posisi 2 kita menjadi teman tersebut, ungkapkan alasan  kenapa berperilaku seperti itu. Lalu pindah di posisi 3 menjadi penasehat, contoh jadi ayah/ ibu kita. Keluarkan kata-kata nasehat agar kita mengerti kenapa seseorang berperilaku seperti itu. Mencoba melakukan teknik ini dapat meredam emosi dan membuat kita lebih tenang.



6. Cuci otak, cuci hati
Setiap malam sebelum tidur keluarkan apa saja yang menjadi uneg-uneg dalam sehari. Keluhan, kesedihan, kebahagiaan, bersyukurlah sebanyak-banyaknya atas apa yang kita alami hari ini. Maafkan jika ada orang yang berbuat salah pada kita, selesaikan sakit hati hari itu, lupakan kejadian hari itu, agar esok ketika bangun pagi kita menjadi pribadi yang baru, lebih bersih lebih segar dan siap menghadapi hari yang baru.

Jika kita konsisten menggunakan teknik tersebut dalam kehidupan sehari-hari, maka akan terlatih dan menjadi kebiasaan. Sebenarnya semua teknik yang ada dapat dilakukan untuk men-terapi diri sendiri dan bisa digunakan untuk men-terapi orang lain, baik itu anak sendiri ataupun orang lain yang membutuhkan bantuan kita. 




Apabila semua orangtua di rumah dan guru di sekolah memiliki ilmu tentang cara mengelola dan menyelesaikan emosi ini serta konsisten dalam penerapannya, maka semua anak akan tumbuh menjadi individu yang selalu bahagia. 






Total comment

Author

Unknown

0   komentar

Cancel Reply